Manusia dan kematian adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, bak
sekeping mata uang logam, keduanya saling bertautan. Selaras dengan
hukum alam –sunnatullah-, bahwa setiap yang mempunyai jiwa akan
mengalami kematian, maka kematian manusia adalah hal yang pasti dan
tidak dapat terelakkan.
Kematian manusia adalah proses yang terus berlangsung. Kematian manusia,
karenanya, adalah problema manusia masa lalu, masa kini, dan masa
mendatang. Problema seperti ini kita sebut problem
filosofis-eksistensial yang tak kenal batasan spasio-temporal. Namun
demikian, bingkai historis tetap diperlukan untuk memberi insight
tentang sebab-musabab dan dampak luasnya terhadap keadaan kemanusiaan.
Dalam makalah ini kami ingin paparkan sekelumit tentang manusia dan
kematian yang meliputi hakekat kehidupan, kematian, keutamaannya dan
persiapan menghadapinya dengan merujuk kepada al-Qur'an dan Hadits.
PEMBAHASAN
a. Pengertian hidup
Hidup adalah pertalian roh dan badan serta hubungan interaksi antara
keduanya. Atau hidup adalah suatu sifat yang dengan sifat itu sesuatu
menjadi berpengetahuan dan memiliki kekuatan. Jadi, hidup itu merupakan
sumber kenikmatan; sebab dengan adanya hidup maka tidak seorang pun
dapat menikmtai arti kehidupan dunia serta merasakan pembalasan baik
buruk di akhirta nanti.
Namun, lebih luas M. Mutawalli Asy-Sya'rawi mengatakan, bahwa kehidupan
tidak terbatas hanya pada kehidupan jin dan manusia, tapi mencakup semua
makhluk yang ada di alam ini. Beliau menganggap salah selama ini
orang-orang terlanjur mendefenisikan makhluk hidup itu sebagai sesuatu
yang dapat merasa dan bergerak, padahal yang sebenarnya makhluk hidup
itu semua benda yang dapat melaksanakan fungsinya di alam ini.
Sepintas kita melihat benda padat (jamad) itu memang tidak bergerak
(mati), padahal yang sebenarnya ia hidup. Kesimpulan kita selama ini
hanya didasarkan pada interpretasi umum yang menyatakan bahwa gerak
merupakan ciri bagi makhluk hidup. Bahkan dijelaskan dalam al-Qur'an
bahwa benda padat bisa menangis (QS. Al-Dukhan:29), bisa mendengar (QS
Fushshilat:11) dan bisa berbicara (QS. al-anbiya:79;al-Isra:44).
Dunia ini diciptakan oleh Allah sebagai tempat kehidupan dan kematian.
Sedangkan alam akhirat dijadikan sebagai tempat pembalasan dan kemudian
tempat yang kekal abadi.
Allah telah menciptakan hamba-Nya di dunia ini untuk menyembah hanya
kepada-Nya serta menguji mereka, sehingga dapatlah diketahui siapa di
antara mereka yang paling baik amalnya, nanti akan diberi balasan
pahala, atau siapa yang berbuat durhaka maka nanti akan mendapatkan
siksa. Firman Allah swt
Sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar
Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik
perbuatannya.(QS. Al-Kahfi: 7)
Allah menjadikan manusia bertempat tinggal di dunia, supaya mereka dapat
mengetahui keagungan-Nya dan keluasan ilmu-Nya sehingga mereka mau
mengabdi hanya kepada-Nya semata, merendahkan diri kepada-Nya, serta
patuh dan tunduk di bawah keputusan takdir-Nya atau mengikuti
kehendak-Nya.
Manusia lahir dari perut ibunya tanpa pengetahuan dan kesanggupan
apa-apa untuk memberi, menolak atau menghindarkan diri dari suatu
bencana atau mendatangkan sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Pendek kata ia masih merupakan seorang hamba yang pada Zatnya senantiasa
membutuhkan kepada penciptanya. Maka tatkala Allah menyempurnakan
nikmat-Nya kepadanya; mencurahkan rahmat dan memberikan sebab-sebab
terwujudnya kesempurnaan dirinya lahir batin, memberikan segala macam
nikmat-Nya, yang tak mungkin dapat disebutkan dengan lisan maupun
tulisan, lantas manusia yang miskin ini mengaku bahwa dirinyalah yang
memiliki kekuatan dan sebagai kekuasaan, serta mendakwakan dirinya
sebagai penguasa di samping Allah. Ia telah memandang dirinya tidak
seperti pandangannya yang pertama ketika ia masih merupakan sesuatu yang
asal kejadiannny dari ada, fakir, serba membutuhkan. Ia seolah-olah
tidak pernah menjadi makhluk yang miskin lagi kekurangan.
b. Pengertian Mati
Mati ialah terputusnya hubungan roh dengan lahir batin, perpisahan
antara keduanya, pergantian dari yang satu keadaan kepada keadaan lain.
Mati berbeda dengan tidur, karena tidur terputusnya roh sementara dengan
hubungan-hubungan lahiriah.
Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang
belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah
Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditetapkan.. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-
tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Zumar: 42)
Maksud ayat di atas, Allah yang menggenggam roh di saat telah tiba
saatnya, yaitu tidak adanya hidup, jiwa dan gerakannya. Dan Allah juga
menggenggam roh yang belum datang masa ajalnya, di saat ia sedang tidur,
di mana roh tidak lagi mempunyai kemampuan untuk membedakan dan dan
merasakan sekalipun secara batin. Sebab di saat tidur, hidup, jiwa dan
gerakan masih ada. Karena itu para ulama mendefenisikan tidur itu
sebagai satu naluri yang dengan paksa menimpa seorang, sehingga
menghalangi perasaannya untuk mengadakan dan melengahkannya dari
kesanggupan untuk mengerti.
Ada pula yang berpendapat bahwa tidur itu adalah pingsan yang hebat yang
menimpa pikiran, sehingga menghalangi mengetahui sesuatu yang ada ini.
Dalam keadaan bangun, maka roh manusia berjalan dalam tubuh lahir batin.
Dan mengerti tentang Allah menggenggam roh di kala dalam keadaan
tidurnya dan dalam keadaan matinya dengan genggaman yang melepaskan dan
menahan yaitu Allah menutup roh dengan sesuatu yang dapat mencegahnya
dari melakukan segala sesuatu yang dapat dipegang (digenggam). Yang
belum sampai batas waktu ajalnya, dilepaskan kembali dan yang sudah
sampai kepada maut, maka ditahannya hingga hari kiamat.
Adapun kematian itu sendiri adalah batas kesempurnaan roh (jiwa) dalam
hidup (umur). Maka maut berarti menghilangkan seluruh seluruh daya rasa
selama roh itu berada di genggaman Allah. Atau maut merupakan
penyempurnaan keseluruhan secara hakiki yakni mati dan yang lain adalah
penyempurnaan tidur (tidur sempurna), sebab pada hakikatnya adalah mati
juga.
Sementara mengenai mati, Munandar Sulaeman mengatakan bahwa kata mati
berarti tidak ada, gersang, tandus, kehilangan akal dan hati nurani,
kosong, berhenti, padam, buruk, lepasnya ruh dari jasad (QS. 2:28;
2:164; 33:52; 6:95).
Sedangkan pengertian mati yang sering dijumpai dalam istilah sehari-hari adalah:
1. kemusnahan dan kehilangan total roh dari jasad.
2. terputusnya hubungan antara roh dan badan.
3. terhentinya budi daya manusia secara total.
Mengenai pengertian mati yang pertama dan kedua di atas, kalau dikaji
dengan keterangan-keterangan yang bersumber dari agama (Islam), maka
kematian bukanlah kemusnahan atau terputusnya hubungan. Kematian
hanyalah terhentinya budi daya manusia pada alam pertama, yang nanti
akan dilanjutkan kehidupannya pada alam kedua. Ajaran agama
menggambarkan adanya konsepsi pertalian alam dunia dan alam akhirat
serta menggambarkan prinsip tanggung jawab manusia selama hidup di
dunia. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad saw. : "apabila anak
Adam telah mati, maka terputuslah daripadanya budi-dayanya kecuali tiga
perkara: sedekah jariah, ilmu yang berguna, atau anak saleh yang
mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya". Demikian pula firman Allah:
dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu
hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.(QS. Al-Baqarah:154)
Sedangkan proses kematian manusia itu sendiri tidak dapat diketahui
dengan jelas, karena menyangkut segi fisik dan segi rohani. Dari segi
fisik dapat diketahui secara klinis, yaitu seseorang dikatakan mati
apabila pernapasan dan denyut jantungnya berhenti. Dari segi rohani
ialah proses roh manusia melepaskan diri dari jasadnya, oleh karena itu
proses kematian dari segi rohani ini sulit dijelaskan secara inderawi,
tetapi nyata terjadi.
Mengenai roh, para ulama saling berbeda pendapat, sehingga menjadi dua
golongan. Segolongan bersikap diam dan tidak mau mengatakan pengertian
roh dan tidak mengadakan apa-apa. Hanya mereka itu berkata: "Roh
adalah tetap pada urusan Tuhan dan termasuk rahasia-Nya yang Allah
perlihatkan gejala-gejalanya dengan ilmu-Nya, tetapi Dia tidak
memberikan ilmu dan pengetahuan tentang roh itu kepada siapa pun. Inilah
sebagai alasan mereka, seperti yang telah difirmankan oleh Allah:
dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".(QS. Al Israa' : 85)
Kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai manusia dewasa ini (bahkan
sampai kapan pun) ternyata tidak sanggup mengatasi masalah kematian.
Ilmu pengetahuan hanya mampu menyelidiki sebab-sebab kematian, sekalipun
bahwa pada hakikatnya tidak ada sebab kematian kecuali ajal.
Kematian bukanlah proses akhir bagi kehidupan sebenarnya, tapi hanya
merupakan tempat singgah (transit). Ada empat fase yang telah dan akan
dilewati manusia dalam perjalanan hidupnya:
1. fase kematian di alam substansi
2. fase kehidupan dunia
3. fase kematian di alam barzakh
4. fase kehidupan di akhirat (kehidupan sebenarnya, kekal dan abadi).
c. Keutamaan Mati
Keutamaan dan fungsi kematian sulit untuk dijawab apabila berdasarkan
atas akal. Fungsi kematian ada apabila jawabannya bersumber dari
ajaran-ajaran agama. Ajaran agama tidak memandang semata-mata sebagai
kematian fisik, tetapi berfungsi rohaniah, yaitu untuk memberikan
pembalasan kepada manusia sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu hidup.
Fungsi kematian adalah untuk menghentikan budi-daya, prestasi dan
sumbangan seluruh potensi kemanusiaannya .
Seseorang yang berkecimpung dalam kemewahan dunia dan tenggelam karena
tertipu oleh keindahannya serta sangat mencintai
kesenangan-kesenangannya, pastilah ia lupa untuk mengingat kematian.
Bahkan ia tidak ingat sama sekali bahwa suatu ketika ia juga akan mati.
Seandainya ia diingatkan oleh orang lain, ia malahan membencinya.
Golongan semacam ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya:
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka
Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS.
Al-Jumu'ah:8)
Orang yang tidak ingat bahwa dirinya akan mati, maka ia akan menjadi
orang yang celaka. Biasanya ia berbuat sewenang-wenang, sombong, angkara
murka dan lain-lain, sifat yang tidak terpuji. Berbeda dengan orang
yang selalu mengingat mati. Ia akan menjauhi sifat-sifat yang tidak
terpuji. Karena itu, mengingat mati termasuk salah satu yang terpuji dan
yang paling utama.
Banyak hadits nabi yang menganjurkan mengingat mati, di antaranya adalah:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَذَّامِ اللَّذَّاتِ (رواه الترمذي)
"Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kenikmatan)" (HR. Tirmidzi)
Dengan kematian, seorang mukmin akan mendapat pahala dan ganjaran, sebab
ia bersabar dalam menerima penderitaan dan kesakitan mati.
Sebenarnya, dengan dirahasiakannya kematian itu ada hikmah yang dapat
diambil oleh manusia. Pertama, setiap saat manusia akan selalu sadar dan
yakin bahwa ia akan menjumpai kematian, dengan demikian manusia akan
bersegera melakukan amal kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan maksiat.
karena merasa takut jika tiba-tiba ajal menjemput sementara amal
kebaikan dirasa masih sedikit. Kedua, kita merasa yakin bahwa tidak ada
sebab kematian kecuali ajal, karena sesungguhnya segala sebab kematian
yang kita perhitungkan seperti rasa sakit, ketuaan dan lain sebagainya
hanyalah merupakan sebab yang tidak hakiki. Karena, jika mati datang, ia
tidak memerlukan sebab.
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak
(pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah".
tiap-tiap umat mempunyai ajal[696]. apabila telah datang ajal mereka,
Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak
(pula) mendahulukan(nya).
d. Menyiapkan Diri Untuk Mati
Dalam menyikapi kematian, tiap orang bermacam-macam sesuai dengan keyakinan dan kesadaran yang dimilikinya, di antaranya adalah:
1. orang yang menyiapkan dirinya dengan amal perbuatan yang baik karena
menyadari bahwa kematian bakal datang dan mempunyai makna rohaniah.
2. orang yang mengabaikan peristiwa kematian, yang menganggap kematian
sebagai peristiwa alamiah yang tidak ada makna rohaniahnya.
3. orang yang merasa takut atau keberatan untuk mati karena terpukau oleh dunia materi.
4. orang yang ingin melarikan diri dari kematian karena menganggap bahwa
kematian itu merupakan bencana yang merugikan, mungkin karena banyak
dosa, hidup tanpa norma, atau beratnya menghadapi keharusan menyiapkan
diri untuk mati.
Menurut Zakiah Daradjat, khusus pada usia remaja, kematian dipandangnya
sebagai akhir yang harus dialami oleh setiap manusia dan mati merupakan
suatu bencana alamiah yang besar, oleh karenanya remaja merasa takut, ia
tidak ingin menghayalkan bahwa ia akan terlepas dari bencana mati itu,
akan tetapi ia mencari keyakinan logis yang lebih mendalam, misalnya
dengan mempercayai adanya kehidupan akhirat, sehingga kecemasan terhadap
mati akan berkurang dengan adanya keyakinan terhadap kehidupan akhirat
sesudah mati, termasuk adanya surga dan neraka, sehingga hal ini akan
mendorong dia untuk mempersiapkan diri dengan memperbanyak berbuat
kebaikan.
Ketakutan remaja akan kematian dirinya, karena:
1. berpisah dengan orang-orang yang disayangi dan kuatir meninggalkan mereka.
2. rasa dosa, takut bertemu dengan Allah, seolah-olah takut akan hukuman akhirat.
3. ambisi dan cita-citanya belum dan tidak akan tercapai.
Oleh karena mati adalah pasti, maka sebagai seorang mukmin harus
mempersiapkan diri dalam arti tidak lengah untuk mengingat mati yang ada
di hadapannya, serta mengingatkan sahabat-sahabatnya atau
teman-temannya, sehingga mereka akan mengingat tempat kembalinya yang
berada di dalam bumiyang akan menghapuskan wajah-wajah mereka yang baik
serta pembalasan yang akan terjadi dalam kuburan mereka, bagaimana
anak-anak mereka terlepas, harta mereka tinggalkan, majelis-majelis
mereka serta bekas-bekas mereka akan putus. Sabda Nabi Muhammad saw.:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ . وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه ابن ماجه)
"orang yang cerdik ialah menjauhkan nafsunya dan beramal
untuk(persiapan)setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang
menurutkan hawa nafsunya kemudian berharap kepada Allah (untuk
mengampuninya") (HR. Ibnu Majah)
Kematian adalah musibah yang besar dan penderitaan yang hebat. Akan
tetapi justru yang lebih hebat lagi adalah sikap melalaikan diri untuk
mengingat kematian, tidak mau merenungkan soal ini dan tidak mau beramal
guna menyongsong kematian itu. Kematian sungguh menjadi suatu pelajaran
bagi orang yang mau menyadarinya.